SRI dan Pemkab Tapanuli Selatan Rehabilitasi Titik Longsor di Tapsel Pasca bencana Sumatera 2025

Sipirok, Tapanuli Selatan — Upaya pemulihan lingkungan pascabencana banjir dan longsor di Desa Bulu Mario, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, terus dilakukan. Sumatra Rainforest Institute (SRI) bersama Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan melaksanakan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan pada sejumlah titik yang terdampak longsor sebagai bagian dari upaya memulihkan kondisi lingkungan sekaligus mengurangi risiko bencana di masa mendatang.

Kegiatan rehabilitasi tersebut dilaksanakan secara serentak pada Kamis, 15 Januari 2026, dengan menyasar sejumlah lokasi terdampak longsor di sekitar bahu jalan provinsi menuju Kecamatan Marancar, Desa Bulu Mario. Penanaman dilakukan pada beberapa titik yang dinilai membutuhkan pemulihan vegetasi, salah satunya pada koordinat 1°35’11.1″ N, 99°12’56.1″ E, kemudian dilanjutkan pada titik lainnya, termasuk 1°35’15.1″ N, 99°12’40.6″ E.

Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah bersama untuk mempercepat pemulihan kawasan yang mengalami kerusakan akibat bencana banjir dan longsor yang terjadi pada November 2025. Selain memulihkan tutupan vegetasi, penanaman di lokasi rawan longsor diharapkan dapat membantu memperkuat struktur tanah, meningkatkan daya resap air, serta menjaga fungsi ekologis kawasan di sekitar permukiman dan infrastruktur jalan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tapanuli Selatan, Ongku Muda Atas Sormin, Camat Sipirok S. Perwira, Kepala Desa Bulu Mario beserta perangkat desa, Raja Panusunan Bulung, serta tokoh masyarakat dan unsur masyarakat lainnya.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi multipihak dalam pemulihan lingkungan pascabencana. Pemerintah, lembaga masyarakat sipil, pemerintah desa, tokoh adat, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga kawasan agar lebih aman dan memiliki ketahanan ekologis yang lebih baik.

Menanam Pohon, Memulihkan Lereng

Berbagai jenis tanaman ditanam di lokasi terdampak longsor. Jenis yang dipilih antara lain durian, matoa, petai, aren, meranti, beringin, dan bambu. Pemilihan jenis tanaman tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekologis dan pakan satwa, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan dan memberikan nilai manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.

Penanaman pohon pada kawasan terdampak longsor merupakan salah satu langkah awal dalam proses rehabilitasi. Vegetasi yang tumbuh dengan baik diharapkan dapat membantu mengikat tanah, mengurangi erosi dan limpasan permukaan, serta memperbaiki kondisi kawasan secara bertahap.

Bagi SRI dan para pihak yang terlibat, rehabilitasi kawasan terdampak bencana bukan sekadar kegiatan menanam pohon. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran bersama bahwa perlindungan hutan dan pemulihan lingkungan merupakan investasi jangka panjang bagi keselamatan masyarakat.

Membangun Ketahanan Lingkungan Bersama Masyarakat

Desa Bulu Mario merupakan salah satu kawasan yang memiliki nilai penting dalam konteks lingkungan dan kehidupan masyarakat. Karena itu, pemulihan kawasan terdampak longsor membutuhkan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan, bukan hanya pada saat kegiatan penanaman berlangsung.

Kolaborasi yang dibangun melalui kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat peran masyarakat dalam menjaga tanaman yang telah ditanam, mencegah kerusakan lingkungan, serta meningkatkan kepedulian terhadap kawasan hutan dan lahan di sekitarnya.

Melalui sinergi antara SRI, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, pemerintah desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan warga, rehabilitasi titik-titik longsor di Bulu Mario diharapkan tidak hanya memulihkan kawasan yang rusak, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun desa yang lebih tangguh menghadapi ancaman banjir dan longsor serta memiliki lingkungan yang lebih lestari bagi generasi mendatang.