Workshop Ke-3 & Diskusi Kerja Tim: Konservasi Hutan Hujan Sumatera, Pemberdayaan Ekonomi, dan Perlindungan Satwa

Di Sipirok, Tapanuli Selatan, gagasan dan wacana tentang masa depan pelestarian lingkungan menemukan momentum barunya. Pada 14 hingga 16 September 2026, Tim Kerja Sumatra Rainforest Institute (SRI) menggelar Workshop Ke-3 yang difasilitasi oleh Rajidt F Mallay dan Rasyid Assaf Dongoran.

Selama bertahun-tahun, dilema klasik antara memelihara alam dan memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan selalu menjadi tantangan yang sulit diurai. Namun, hasil perumusan dari Workshop Ke-3 ini menawarkan sebuah jalan tengah di mana kelestarian hutan dan kesejahteraan warga dapat berjalan berdampingan.

Bagi masyarakat di empat desa sasaran, konservasi kini hadir sebagai ajakan bertani secara berkelanjutan. Lewat skema agroforestry atau pertanian kebun campur, impian untuk merajut kemandirian ekonomi diwujudkan dengan target capaian yang jelas: penghasilan warga mencapai Rp 2.000.000,- per bulan. Langkah aksi bergerak nyata di tingkat tapak, diawali dari penyediaan bibit unggul, pendampingan lewat penyuluhan pertanian, pengelolaan pusat pembibitan (nursery), hingga pelibatan warga lokal dalam patroli kawasan.

Ketika tekanan terhadap sumber daya hutan perlahan menurun, masyarakat dan alam menemukan cara untuk saling menghidupi.

Di balik rimbunnya vegetasi Hutan Hujan Sumatera, teknologi kini hadir sebagai garda depan yang memantau keanekaragaman hayati. Melalui sistem pemantauan inovatif, perlindungan terhadap habitat orangutan diperkuat secara presisi dengan indikator ketercapaian

Pemanfaatan teknologi ini dirancang untuk mengatasi ancaman fragmentasi habitat, memastikan koridor jelajah satwa tetap aman dan terlindungi dari potensi konflik. Keberhasilan di lapangan tentu tak lepas dari pembenahan tata kelola internal.

Organisasi diperkuat melalui pengembangan aplikasi manajemen terpadu yang memantau SOP, alur kegiatan, dan operasional lembaga secara transparan. Kapasitas tim dan warga di lapangan pun terus ditempa, mencakup keahlian teknis patroli, teknik pertanian ekologis, hingga akuntabilitas administrasi dan keuangan.

Seluruh rancangan aksi ini dipandu secara ketat oleh kerangka SMART (Specific, Measurable, Available, Realistic, Time-bound), memastikan bahwa setiap langkah pemulihan alam terukur dan memiliki target waktu yang pasti. Pada akhirnya, merawat Hutan Hujan Sumatera adalah perkara membangun keyakinan kolektif.

Melalui pendekatan SRI yang dikawal oleh tim kerja beserta para fasilitator dalam Workshop Ke-3 ini, proses penyadaran ditanamkan dari stimulus internal menuju persepsi yang selaras, hingga melahirkan perilaku patuh pada kesepakatan bersama. Ketika komitmen, fakta, dan ilmu pengetahuan saling terjalin, Hutan Hujan Sumatera bukan lagi sekadar benteng hijau yang terisolasi, melainkan ruang hidup yang memberi penghidupan dan kepastian masa depan bagi semua.